• John Dahrief
Kenapa!
lidahku terasa kelu
terasa diiris sembilu
tak sanggup berkata
Ingin kuteriak!
memaki kepada rasa
rasa yang masih ada
ingin rasanya kubentak
Dirinya yang masih berdiri
kokoh menatapku nanar
seperti gunung yang tinggi
tak beranjak meski terkapar
hutan-hutannya telah sepi
tiada lagi burung camar
tak sanggup aku pergi
Tuhan kuatkanlah hatiku
yakinkan keputusanku
tak sanggup kutatap gunung itu
mengapa lidahku beku
engkau masih berdiri di situ
menunggu penjelasanku
Aku menangis
meratapi rumah pohonku
ingin kusampaikan pada angin
maafkan diriku yang sadis
semua cintaku dalam semu
kepada gunung, cintaku dalam bisu
|
|
MEDIA PARTNERS
John Dahrief | Lahir di Jaga Baya, Bandar Lampung, 24 Agustus 1971. Di sela-sela kesibukannya sebagai karyawan PT Pertani (Persero), ia masih sempat menulis puisi sebagaimana minatnya yang demikian besar pada seni. Ia juga aktif sebagai penulis di sebuah situs persajakan nasional. Beristri satu dengan tiga orang anak perempuan merupakan sebuah anugerah yang tak terkira. Sekarang ia bekerja di Bengkulu sementara istri tercinta serta anak-anak masih menetap di Lampung. Namun meski begitu, jarak bukan menjadi aral jika rindu mendera, sebab ia akan menuangkan kerinduannya tersebut di dalam sajak dan puisi yang ditulisnya.










