• John Dahrief
maafkan aku...
yang telah mengambil keputusan itu
mata hatiku yang telah beku
tak sanggup menatap rindu
entah apa yang salah
aku sudah terlalu lelah
langkahku waktu itu terasa gundah
dalam getir aku melangkah
mungkin dulu...
aku menatap bayangan semu
yang membuat aku yakin
dan sekarang aku menjadi ragu
biarlah waktu akan menjadi saksi
pengharapanmu untuk mengetuk hati
mata hatiku nyata atau ilusi
meski bayangmu selalu hadir di sini
biarlah, demi masa
waktu akan membuktikannya
apakah cinta masih setia
apakah kita masih bisa bersama
|
|
MEDIA PARTNERS
John Dahrief | Lahir di Jaga Baya, Bandar Lampung, 24 Agustus 1971. Di sela-sela kesibukannya sebagai karyawan PT Pertani (Persero), ia masih sempat menulis puisi sebagaimana minatnya yang demikian besar pada seni. Ia juga aktif sebagai penulis di sebuah situs persajakan nasional. Beristri satu dengan tiga orang anak perempuan merupakan sebuah anugerah yang tak terkira. Sekarang ia bekerja di Bengkulu sementara istri tercinta serta anak-anak masih menetap di Lampung. Namun meski begitu, jarak bukan menjadi aral jika rindu mendera, sebab ia akan menuangkan kerinduannya tersebut di dalam sajak dan puisi yang ditulisnya.










