• John Dahrief
setelah melanglang buana, aku diukur
akhirnya kutahu, cintanya ada ukuran
aku dihempas dan tersungkur
baginya, cinta yang kupuja rendah takaran
sesaat, sempat hatiku pecah berantakan
dan cintaku tergenang airmata kebencian
kuhitamkan genangannya dalam kegelapan
hidupku terbenam dalam kenistaan
dalam kepekatan malam yang terlalui
hembusan angin membelaiku, belaian Ilahi
dan perjalanan gelapku terhenti
kutemukan arti cinta sejati
tiada henti, sujud syukur mewakili rasa
terang hati menghiasi potretku
sinar Ilahi putihkan jiwa
cahaya-Nya benderang, menerangi kalbu
ketika tidurku telah terjaga
aku tersentak mendengar jeritannya
lengkingan suaranya membelah angkasa
sama seperti teriakku saat ditinggalkannya
dia datang untuk kembali
dengan membawa seikat janji
pandanganku nanar, menatap Ilahi
meraba-raba, mengukur cinta sejati
|
|
MEDIA PARTNERS
John Dahrief | Lahir di Jaga Baya, Bandar Lampung, 24 Agustus 1971. Di sela-sela kesibukannya sebagai karyawan PT Pertani (Persero), ia masih sempat menulis puisi sebagaimana minatnya yang demikian besar pada seni. Ia juga aktif sebagai penulis di sebuah situs persajakan nasional. Beristri satu dengan tiga orang anak perempuan merupakan sebuah anugerah yang tak terkira. Sekarang ia bekerja di Bengkulu sementara istri tercinta serta anak-anak masih menetap di Lampung. Namun meski begitu, jarak bukan menjadi aral jika rindu mendera, sebab ia akan menuangkan kerinduannya tersebut di dalam sajak dan puisi yang ditulisnya.










