• Weni L. Ratana
Kekasih dan Jingga Kenangan
— catatan harian pada sebuah diari....
(dari seuntai puisi alit yang telah berdebu: 'Kekasihku yang Tak Pernah Ada')
Ada sepasang layang-layang
yang pernah kau terbangkan
kala angin mendesau sebelum gerimis
: ingatkah, lak nan rapuh
telah mengoyaknya saat mengangkasa
Lalu ia benar-benar boyak oleh air hujan
tak lama berselang, dan kita pongah dalam uras
: biarkan saja, demikian katamu
lalu kita sama-sama
ketawa seperti gila,
sebab rinai nan satu satu adalah tirai ajaib
yang turun oleh lara airmata dewi
yang menangis didera asmara
Tak kita peduli lagi layang-layang yang jamah bumi
dalam cumbu nirkaru dengan tanah
seonggok sobekan menjelma kolumela
di antara kolimasi dan tirai-tirai patah
dan tak lama membusuk dalam selokan
Sesal jadi tak berarti
:
sebab sauh mata pada banglas langit
adalah ambal dan mafela
yang mengelabu oleh indah gemawan
Namun cinta tak selamanya indah
seperti layang-layang yang ruyak
serupa hering tak bersayap
patah dalam penantian
Kasih, tanpamu
: aku menjelma pesakit tanpa eliksir
tidakkah kau dengar raung suaraku
yang membentur dinding gawir
dan tiap sebentar mengentropi
dari satu sisi hati ke sisi lainnya
: energi ini telah mati!
Kasih, tanpamu
penantian ini merupakan kenangan yang menjingga dan lesi....
|
|
MEDIA PARTNERS
Weni L. Ratana, lahir di Lappariaja, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, 28 September 1987. Sedari dulu, ia sangat menggemari dunia kepenulisan. Kerap berkecimpung dalam keorganisasian, terutama yang menyangkut dunia pendidikan. Ia merupakan salah satu redaksi mading di sekolahnya. Selain menulis puisi dan cerpen dalam buku diari dan blognya, ia juga senang mengoleksi lagu di komputer dan menonton film. Sekarang penulis rupawan ini tengah merampungkan sebuah novel sastra Tiongkok yang bakal dipublikasikannya pada penerbit nasional.










