• Weni L. Ratana
Tentang Cinta nan Buta
Cinta itu buta,
makanya aku tak bisa
melihat selain kamu.
Cinta itu buta,
kecuali ketika kamu
menuntunku dalam gelapnya.
Cinta itu buta,
tuli,
bisu,
dan lumpuh.
Sehingga aku
membiarkannya membawa
separuh jiwaku pergi bersamamu....
(cuplikan puisi dalam film Tentang Cinta, karya Titien Wattimena)
Mungkin cinta telah membutakan mataku.
Mungkin cinta telah pula
menyesatkan langkahku dalam gulita.
Tetapi tidak hatiku.
Sebab aku sadar,
cinta serupa pijar lentera.
Sebab ia adalah rupa dari noktah,
dan kilau dari jauhar.
Olehnya, ia menjelma lelatu
dan unggun yang senantiasa
membenderang di hati.
Tentang Cinta Pertama
Kasih,
pernahkah kau dengar derap jantungku,
saat matamu menyorot indah
seperti sepasang bintang
di jelaga langit?
Pernahkah kau tahu
serangkai mimpi indah
yang menghiasi tidur malamku?
Mungkin kau tak pernah tahu,
dan mungkin kau tak pernah peduli.
Sebab oleh satu hal
yang pernah kau lontarkan
dan menghunjam
bagai letusan merapi di telingaku
: "Terima kasih atas segalanya.
Tetapi, kita hanya sahabat!"
Bantalku membasah oleh airmata
yang jatuh bagai landung embun.
Milis yang kubuka sore tadi
membuncah dalam ruap luka.
Betapa pedih sunyata
yang kau paparkan dalam jawab.
Hatiku patah bagai abnus getas.
Jiwaku mengambang,
seperti kupu-kupu nan rapuh.
Bersayap patah dan hanya terbang
tiap sebentar lalu mati.
Tetapi, mengapa pengharapan
yang tercetus dari bibirmu
senantiasa bagai benih cinta
yang menabur
di ranah gembur asmara?
Kau tersenyum
bagai rembulan purna,
dan mengembangkan
kedua sayapmu
bagai sekar merpati!
Aku terjerat
bagai dalam kubangan lak.
Tak dapat pergi.
Tak dapat melangkah.
Terpatri hanya untukmu.
Binara dari sekumpulan renjana lantak sudah.
Jatuh berkeping-keping
meninggalkan repih-repih yang menggiris
dalam luka dan sunyi.
Aku terkapar berdarah.
Kau adalah gadis tegar
yang tercipta dari teater kehidupan.
Darahmu adalah lawas kenangan
yang dilentuk oleh serangkai kepedihan,
dan nadimu adalah luka masa lalu.
"Laki-laki adalah syair indah
yang tercipta dari sekumpulan daging,
tulang, dan darah.
Kunikmati setiap desahan napas
yang membelai tengkukku.
Kuresapi setiap belaian lembut
pada mayang rambutku.
Aku cinta mereka,
tetapi aku tidak pernah
berhasrat memiliki.
Sebab laki-laki
adalah belati yang akan menikamku
dalam mati nan indah."
Tangisku pecah
luka menjelma beling
retak perlahan dalam seribu
lalu berderai menjadi repih
atas renjana yang lantak
Kasih,
masih adakah ruang kosong
di hatimu untuk kuisi?
Aku bukan kesempurnaan
yang terdamba dalam
tiap bilangan obsesimu,
namun aku akan berusaha
melengkapi setiap
ketidaksempurnaanku itu
agar menjadi lebih baik.
"Hei, aku mencintai lelaki rembulan.
Ia putih dalam binarnya,
dan ia purna dalam sinarnya."
Tetapi,
Kasih,
aku bukan lelaki rembulan
seperti dambamu.
Aku hanyalah jelaga
pada jubah gulita langit.
Namun aku senantiasa
berusaha hadir
dengan sekumpulan bintang,
untuk membenderangimu,
menuntunmu sampai akhir napas.
Bintang adalah mata hati
pijarnya adalah nurani
ia tak pernah lelap
dan terpulas serupa dewi
dalam buai alunan irama sitar satria
Kau tertawa.
Sebegitu pentingkah gemintang
dalam hidupmu
jika ada rembulan
yang bersinar dalam purna?
Begitu dekat dalam dekap,
begitu hangat dalam peluk erat.
Sayangku, alunkanlah selantun lagu cinta
jika kau pun mencintaiku.
Senandungkanlah litani
jika kau pun rindu padaku.
Tetapi kau menampik dengan bilang
: "Aku tidak memilih siapa-siapa.
Kau, dia dan dia,
hanyalah sahabat.
Aku telah memiliki rembulan!"
"Aku akan mati tanpamu, Kasih,"
demikian ujarku menanggap.
"Bukankah sedari dahulu
kau selalu melantunkan lagu sunyi
tentang hati nan sendiri,
tanpa rembulan,
tanpa gemintang?
Lalu mengapa ada rembulan putih
yang tiba-tiba menjadi lentera cintamu?"
"Rembulan pernah bersinar dalam pasi
saat ia berselingkuh
dengan sekumpulan awan.
Tetapi itu masa lalu,
dan masa lalu
senantiasa menutup dirinya
dalam diari biru,
dan ia akan hadir
dalam lembar babak putih.
Izinkan aku
memeluk rembulan,
sebab ia adalah
cinta pertamaku!"
Aku merasa ada yang hilang
tanpa tahu apa yang sudah kutemukan,
aku merasa menemukan
tanpa tahu apa yang aku cari.
Dan aku seperti masih mencari
tanpa tahu
apa yang sudah hilang.
Manusia memiliki mimpi
ada yang mengejar dan mewujudkannya,
ada yang mundur dan membuangnya,
ada pula yang diam
dan hanya menyimpannya
sepanjang sisa hidupnya.
Dan aku akan menjadi manusia yang terakhir itu....
(cuplikan puisi dalam film Cinta Pertama, karya Titien Wattimena)
Tentang Cinta nan Patah
Sayangku,
biarkan aku pergi
dalam kurun waktu kelana.
Aku mengikuti arah mata angin.
Tanpamu, aku seperti mati.
Dan sunyi adalah giris
nyanyian rekwin.
Lalu sejak itu,
kau terbang bersama angin.
Menari di antara camar,
laut, dan gelung ombak.
Cintamu sungguh
tak terjamah.
Seperti gemarang nan angkuh.
Akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui.
Apakah kau masih selembut dahulu
memintaku minum susu dan tidur yang lelap
sambil membenarkan letak leher kemejaku.
Kabut tipis pun turun pelan-pelan
di lembah kasih,
lembah Pandalawangi.
Kau dan aku tegak berdiri
melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin.
Apakah kau masih
membelaiku semesra dahulu
ketika kudekap
dekaplah lebih mesra
lebih dekat.
Apakah kau masih akan berkata
kudengar derap jantungmu,
kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta.
(cuplikan puisi dalam film Gie, karya Soe Hok Gie)
Selamat tinggal, Kasih.
Selamat tinggal kenangan,
bersamamu kau rancapkan
indah sekaligus luka.
Diammu adalah pilar sunyi
yang kau kokohkan
dalam memori jingga.
Tetapi, jika tak ada cinta
di hatimu terhadapku,
mengapa kau masih menyimpan
setangkai bunga mawarku
di sudut hatimu?
|
|
MEDIA PARTNERS
Weni L. Ratana, lahir di Lappariaja, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, 28 September 1987. Sedari dulu, ia sangat menggemari dunia kepenulisan. Kerap berkecimpung dalam keorganisasian, terutama yang menyangkut dunia pendidikan. Ia merupakan salah satu redaksi mading di sekolahnya. Selain menulis puisi dan cerpen dalam buku diari dan blognya, ia juga senang mengoleksi lagu di komputer dan menonton film. Sekarang penulis rupawan ini tengah merampungkan sebuah novel sastra Tiongkok yang bakal dipublikasikannya pada penerbit nasional.










