|
Karen Angela | Memulai debutnya sebagai pengarang di tahun 1996 sampai sekarang, penulis cantik yang bernama asli Josephine Petrina ini lahir dan bertumbuh di Palembang. Ia merupakan penulis senior dan telah mempublikasikan karyanya di berbagai media cetak nasional seperti Femina, Anita Cemerlang, Kawanku, Gadis, Hai dan lain-lain. Ia kini menetap di Jakarta bersama sang Suami tercinta, drg. Adrian, yang mengikuti pendidikan spesialis orto (kawat gigi) di Universitas Indonesia, dan membuka praktek dokter gigi di Muara Karang. Antologi cerpennya, Lagi-Lagi Uang pernah dimuat di majalah Femina edisi 49 November 2007, Pacarku Nggak Romantis di Kawanku edisi Mei 2008, dan Masih Ada Hari Esok di Majalah BIP edisi Agustus 2008.
  
Weni L. Ratana | Lahir di Lappariaja, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, 28 September 1987. Sedari dulu, ia sangat menggemari dunia kepenulisan. Kerap berkecimpung dalam keorganisasian, terutama yang menyangkut dunia pendidikan. Ia merupakan salah satu redaksi mading di sekolahnya. Selain menulis puisi dan cerpen dalam buku diari dan blognya, ia juga senang mengoleksi lagu di komputer dan menonton film. Sekarang penulis rupawan ini tengah merampungkan sebuah novel sastra Tiongkok yang bakal dipublikasikannya pada penerbit nasional.

Sara Nindya | Berdomisili di Surabaya, Jawa Timur, penulis yang terbilang sangat belia ini telah mampu menghasilkan karya monumental bertema 'Go Green'. Dua karyanya, 30 Years, It's Just Too Early dan Love for Mother Earth mampu mewakili suara dunia dalam masalah krisis pemanasan global atau Global Warming. Tema yang diusungnya sangat berkarakter, hidup, dan penuh permenungan yang dirangkai dalam alur sederhana dan natural remaja. Penulis berparas ayu yang kerap memakai nama Sara Rocks ini memiliki hobi membaca novel sedari kecil. Dan selayaknya remaja putri lainnya, ia gemar mendengarkan musik, JJS, menonton film, dan browsing internet serta aktif sebagai salah satu member Friendster.com. Ia kini tercatat sebagai salah satu anggota CafeNovel Sastra Populer di Friendster.com.

Dewi Lestari Simangunsong | Lahir di Bandung, 20 Januari 1976. Sebelum Supernova keluar, tak banyak orang yang tahu kalau penulis yang akrab disapa Dee ini telah sering menulis. Tulisannya pernah dimuat di beberapa media. Salah satu cerpennya berjudul 'Sikat Gigi' pernah dimuat di buletin seni terbitan Bandung, Jendela Newsletter, sebuah media berbasis budaya yang independen dan berskala kecil untuk kalangan sendiri. Tahun 1993, ia mengirim tulisan berjudul 'Ekspresi' ke majalah Gadis yang saat itu sedang mengadakan lomba menulis dimana ia berhasil mendapat hadiah juara pertama. Tiga tahun berikutnya, ia menulis cerita bersambung berjudul 'Rico the Coro' yang dimuat di majalah Mode. Bahkan ketika masih menjadi siswa SMA 2 Bandung, ia pernah menulis sendiri 15 karangan untuk buletin sekolah.
Novel pertamanya yang sensasional, Supernova Satu: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh, dirilis 16 Februari 2001. Novel yang laku 12.000 eksemplar dalam tempo 35 hari dan terjual sampai kurang lebih 75.000 eksemplar ini banyak menggunakan istilah sains dan cerita cinta. Bulan Maret 2002, Dee meluncurkan 'Supernova Satu' edisi Inggris untuk menembus pasar internasional dengan menggaet Harry Aveling (60), ahlinya dalam urusan menerjemahkan karya sastra Indonesia ke bahasa Inggris.
Supernova pernah masuk nominasi Khatulistiwa Literary Award (KLA) yang digelar QB World Books. Bersaing bersama para sastrawan kenamaan seperti Goenawan Muhammad, Danarto lewat karya Setangkai Melati di Sayap Jibril, Dorothea Rosa Herliany karya Kill The Radio, Sutardji Calzoum Bachri karya Hujan Menulis Ayam dan Hamsad Rangkuti karya Sampah Bulan Desember.
Sukses dengan novel pertamanya, Dee meluncurkan novel keduanya, Supernova Dua berjudul 'Akar' pada 16 Oktober 2002. Lama tak terdengar, akhirnya Januari 2005 Dee merilis novel ketiganya, Supernova episode PETIR. Kisah di novel ini masih terkait dengan dua novel sebelumnya. Hanya saja, ia memasukkan 4 tokoh baru dalam PETIR. Salah satunya adalah Elektra, tokoh sentral yang ada di novel tersebut. Dan pada medio Juni 2007, ia menerbitkan antologi cerpennya yang berjudul 'Filosofi Kopi' yang tak kalah suksesnya dengan novel-novel terdahulunya.

|