CafeNovel.com | Surat Terbuka Joanna Octavia dari Kanada
Kepada saudara-saudari setanah air Indonesia,
Dari semua warga Indonesia etnis Tionghoa yang pernah bermukim di tanah kelahiran kita, tidak banyak orang yang mengenal keberadaan Soe Hok Gie, mahasiswa dan aktivis politik yang mendedikasikan hidup singkatnya untuk menggulingkan pemerintahan pasca-kemerdekaan yang korup. Saya pertama kali mengenal sosok pemuda gagah berani ini melalui catatan hariannya yang diterbitkan ulang pada tahun 2005, setelah film biografi berjudul "Gie" diluncurkan di Indonesia. "Catatan Harian Seorang Demonstran" bercerita mengenai pengalaman hidup Gie di Indonesia pada zaman pergantian pemerintahan yang penuh goncangan, dari waktu kolonialisme masih merajai tanah nusantara, saat Soekarno naik tahta dan hingga rezim Orde Baru yang dipimpin oleh Soeharto.
Adalah pengetahuan yang umum bahwa seringkali buku lebih dapat mewakili intisari dari sebuah cerita dibandingkan film dengan isi yang sama. Maka dari itulah saya memutuskan untuk membaca buku Gie terlebih dahulu, dan kemudian baru menonton film biografinya. Namun, saya amat terkejut ketika menyadari bahwa kedua media tersebut menyorot sosok Gie melalui teropong yang sama. Bahkan setelah berulang kali membaca buku Gie, saya masih merasa tertarik dengan sosok pemuda ini, dan seringkali bertanya-tanya pada diri sendiri mengenai asal-muasal patriotisme dan keberanian yang ia miliki. Pada saat yang sama, saya juga merasa amat malu pada diri saya sendiri yang lebih banyak menghabiskan waktu memikirkan mengenai hal-hal yang fana dan tidak penting, daripada memakai waktu untuk peduli dan mempelajari hal-hal yang terjadi di Indonesia pada saat ini—dan mencari cara untuk mencetuskan perubahan yang positif.
Pada usia yang sangat relatif muda, Soe Hok Gie berjuang melawan ketidakadilan untuk alasan-alasan yang mungkin beberapa dari kita tidak akan pernah mengerti. Ia bukanlah seorang yang kaya raya, seperti stereotipe warga Indonesia etnis Tionghoa yang berkecimpung dalam dunia bisnis dan perdagangan; ia adalah seorang pencinta alam, kontributor setia media cetak dan ia adalah seorang guru. Melalui unsur-unsur politik yang dikandung oleh karya tulisnya, Gie diasingkan dan memiliki banyak musuh, namun ia terus berjuang demi kebebasan, keadilan dan Indonesia.
Walaupun almarhum mantan presiden Soeharto mengumumkan akan adanya hukum yang mengharuskan semua warga Indonesia etnis Tionghoa untuk mengubah nama Mandarin mereka menjadi nama yang lebih mengandung unsur Indonesia, Gie tidak mengubah namanya dan ia mempertahankan identitas tersebut hingga hari kematiannya, satu hari sebelum ia berulangtahun yang keduapuluh tujuh. Karena hal inilah, maka saya menyadari bahwa identitas adalah milik pribadi yang tidak dapat diganggu gugat. Walaupun pada awalnya saya ragu, akhirnya saya memutuskan untuk memilih Ilmu Politik sebagai salah satu mata pelajaran saya di universitas, yang adalah sangat jauh berbeda dari pelajaran bisnis yang diinginkan oleh orangtua saya.
Mempelajari Ilmu Politik tidaklah mudah; namun melalui mata pelajaran ini saya kini mengerti akan kekuatan yang dikandung oleh sebuah pena. Dalam film "Gie" yang dibintangi oleh Nicholas Saputra, tokoh Gie berujar bahwa: "Individu-individu yang mampu menghasilkan perubahan adalah mereka yang berani berbicara dan melawan arus norma-norma sosial". Seringkali topik pembicaraan yang perlu dibicarakan adalah hal-hal yang paling dihindari. Banyak orang yang berkata bahwa kini Indonesia sedang melalui "Reformasi"; sebagai pemuda-pemudi Indonesia, adalah tugas kita semua untuk tidak membiarkan kata tersebut hanya cat kering di atas spanduk-spanduk, yang dengan mudahnya dibuang setelah demonstrasi ditutup. Sejujurnya, saya sendiri adalah seorang yang masih amatir dan hijau dalam hal-hal yang menyangkut akan politik dan hukum, tetapi saya berharap bahwa perasaan ini tidak akan luntur bahkan ketika saya dewasa nantinya.
Dibesarkan di Indonesia pada rezim Orde Baru dan zaman Reformasi, dari usia yang sangat muda saya sudah mengerti bahwa untuk semua hal ada harga yang harus dibayar; masih banyak topik-topik yang tidak boleh dengan mudahnya dibicarakan—namun bagaimana caranya generasi kita dapat mengubah Indonesia apabila kita tidak diperbolehkan bicara megenai hal-hal yang menurut kita adalah adil dan benar? Soe Hok Gie menulis bahwa generasinya memikul tanggung jawab untuk memimpin Indonesia ke arah yang benar. Namun, korupsi merajalela dan Kerusuhan Mei 1998 adalah saksi mata betapa kelamnya ranah Ibu Pertiwi dicacah oleh diskriminasi yang dibentuk oleh oknum tertentu demi tercapainya kekuasaan semu. Seringkali saya bertanya-tanya pada diri saya sendiri, bagaimana jika Soe Hok Gie tidak meninggal pada usia yang sangat muda dan terus menulis? Apakah mungkin orang-orang akan mendengarkan ketika ia mengingatkan mereka untuk menjadi seorang yang baik dan benar? Entahlah. Mungkin ya mungkin tidak, sebab tidak ada pasti yang statis. Apakah generasi Gie telah memimpin Indonesia ke arah yang benar adalah suatu pertanyaan yang tidak perlu saya jawab. Apakah generasi saya dan generasi Anda akan mengubah Indonesia adalah suatu pertanyaan yang belum bisa saya jawab pula.
Mungkin saja mencetuskan perubahaan melalui setiap langkah dan setiap individu adalah sesuatu yang dapat terjadi, karena seperti kata Soe Hok Gie: "Lebih baik diasingkan daripada menyerah kepada kemunafikan!" (Joanna Octavia, penulis dan mahasiswi Jurusan Ekonomi dan Ilmu Politik Tingkat IV, University of British Columbia, Kanada)

CafeNovel.com | Green Festival
Belakangan ini masyarakat dunia makin sadar akan kerusakan yang telah terjadi pada bumi, dan mulai bergerak menjaga lingkungan sekitar mereka. Prambors, Delta, dan FeMale Radio pun tidak ingin ketinggalan!
Mari ajak sahabat dan keluarga Anda untuk ikutan beraksi menyelamatkan bumi di Green Festival. Ajang ini digelar 18-20 April 2008, jam 10.00 - 22.00 WIB, di Parkir Timur Senayan, Jakarta. Cari tahu tentang berbagai hal yang bisa kita lakukan untuk melindungi bumi di Green Festival. Selain itu juga ada berbagai aktivitas lainnya seperti area bermain, bazaar, dan pastinya panggung hiburan yang menampilkan Letto, Marcell, Nugie, Maliq & d' Essentials, Dwiki Dharmawan and The Next Generation, Sanggar Bona, Saung Udjo, dan masih banyak lagi.
Acara ini gratis. Untuk ikut beraksi bagi pengembangan bumi yang lebih baik, Anda hanya perlu mengorbankan sedikit waktu luang. Bergabunglah di Green Festival!
Acara ini merupakan proyek kolaborasi dari 99.5 FeMale Radio, Kompas, Metro TV, Pertamina, dan Unilever serta didukung oleh www.cafenovel.com. (effendy wongso, sumber: pramborsfm.com, FeMale Radio)

CafeNovel.com | Witsqa, Belajar Baca dari Karaoke
Umur memang tak bisa jadi patokan suksesnya seseorang. Kalau bakat memang sudah kelihatan, kenapa tidak langsung dieksplorasi? Salah satu hasilnya adalah Witsqa, pendatang baru yang sukses merilis album perdana walaupun umurnya baru 11 tahun!
Witsqa, penyanyi yang single pertamanya, 'Widzi (Adik Kecilku)', sudah sering diputar Radio Prambors ini memang masih 11 tahun. Sekarang ini dia masih kelas 6 SD dan lagi bersiap menghadapi ujian buat masuk SMP. Tetapi ia sudah merilis album perdana berjudul 'Hari-Hariku'. Single pertama, 'Widzi (Adik Kecilku)' bercerita tentang adik Witsqa, Widzi yang masih berumur 4 tahun. Lagu ini merupakan pengungkapan pribadi Witsqa yang sayang sekali terhadap adiknya.
Awal langkah Witsqa sebagai penyanyi dimulai saat ia ngeband bareng kakak-kakaknya dulu. Witsqa sendiri punya 3 orang kakak dan dia ngeband bersepuluh bareng kakak-kakak dan teman-temannya. Band itu bernama Blue Notes dan sudah sempat bikin CD juga. Pengalaman lucu yang ia ingat adalah ketika ia sendiri yang menjual dan memasarkan CD Blue Notes di sekolahnya.
Pengalaman lucu lain semasa kecil Witsqa adalah karaokean. Padahal saat itu ia belum bisa membaca. Akhirnya Witsqa malah dapat membaca karena sering karaokean. Setelah jadi vokalis Blue Notes, akhirnya sang Mama memasukkan Witsqa les nyanyi di Elfa's. Di Elfa's itulah Witsqa benar-benar menikmati hobi menyanyinya. Selain les nyanyi, Witsqa memiliki banyak kegiatan lain, mulai dari cheerleading, sampai musik. Alhasil, Witsqa juga bisa main saxophone dan piano.
Single pertama cewek multitalenta ini tidak melulu bercerita tentang sang adik kesayangan, tetapi di album perdananya ini Witsqa juga menyanyikan lagu-lagu tentang cinta. Ketika didesak soal pacar, Witsqa hanya tersenyum dan bilang sampai saat belum pernah pacaran. "Baru tahap naksir-naksiran saja," demikian ungkapnya malu-malu. Sang gebetan adalah seorang cowok teman les Witsqa yang umurnya 4 tahun lebih tua. Waktu ditanya lagu mana di albumnya yang cocok dengan keadaan Witsqa yang sekarang, Witsqa menjawab dengan cepat, "Dia yang Kutunggu!"
Menutup jumpa fans on airnya di Radio Prambors Jakarta, Senin (25/02), gadis manis ini menitip salam untuk seluruh penggemarnya yang ada di Indonesia. "Doakan album perdana Witsqa ini sukses, ya?" (effendy wongso, sumber: pramborsfm.com)

CafeNovel.com | Bengkel Penulisan Novel, Maret-Mei 2008
Bagi Anda yang ingin belajar menulis novel, BPN – Bengkel Penulisan Novel, Dewan Kesenian Jakarta, menggelar sarasehan tentang penulisan novel, yang akan dilaksanakan Maret-Mei 2008, setiap hari Sabtu, pukul 14.00-16.00 WIB di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Para pengajar Bengkel Penulisan Novel 2008 ini adalah AS Laksana dan Yusi Avianto Pareanom. (effendy wongso, sumber: dkj.or.id)

CafeNovel.com | Ubud Writers & Readers Festival
UWRF merupakan salah satu aktivitas dari program Yayasan Saraswati. Festival ini sudah berlangsung selama empat kali. Beberapa penulis Indonesia yang sudah pernah mewakili Indonesia di antaranya:
Tahun 2004; Goenawan Moehamad, Dewi Anggraeni, Toeti Heraty, Dorothea Rosa Herliany, Murti Bunanta, Putu Oka Sukanta, Richard Oh, Mas Ruscitadewi, Bodrex Arsana, Putu Suasta, Warih Wisatsana, A. A Made Djelantik, Wayan Arthawa dan Tan Lioe Ie.
Tahun 2005; Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Dewi Lestari, Oka Rusmini, Moemar Emka, Eka Kurniawan, Joko Pinurbo, Azhari, Laire Siwi Mentari, Rachmania Arunita, Rosni Idham, Muhammad Salim, Marianne Katoppo, Maliana, Pranita Dewi, dan Kadek Sonia Piscayanti.
Tahun 2006; Sapardi Djoko Damono, Putu Wijaya, Laksmi Pamuntjak, Linda Christanty, Acep Zamzam Noor, Raudal Tanjung Banua, Ari Pahala Hutabarat, Reza Idria, Fozan Santa, Goenawan Muhamad, John F.Waromi, Vira Safitri, Sitok Srengenge, Putu Setia, Nirwan Dewanto, Iswadi Pratama, dan Ida Ayu Oka Suwati Sideman.
Tahun 2007; Ahmad Tohari, Anand Krishna, Cok Sawitri, Debra H Yatim, Dorothea Rosa Herliany, Ida Wayan Oka Granoka, Hamid Basyaib, Isbedy Stiawan Zs, Isman Hidayat Suryaman, Julia Suryakusuma, I Ketut Sumatra, Marhalim Zaini, I Gusti Ngurah Harta, Ratih Kumala, Ratna Indraswari Ibrahim, Wiratmadinata.
PENDAFTARAN DIRI DAN NOMINASI PESERTA UBUD WRITERS & READERS FESTIVAL
Yayasan Saraswati, tuan rumah acara tahunan Festival Sastra Internasional Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) mengundang nominasi dan pendaftaran diri penulis Indonesia untuk pemilihan peserta. Festival yang hadir untuk kelima kalinya ini akan diselenggarakan pada tanggal 14-19 Oktober 2008 di Ubud, Bali.
Tahun ini akan dipilih 15 penulis dari seluruh pelosok Indonesia untuk mengikuti acara tersebut dan merespon tema Tri Hita Karana, suatu filsafat hidup yang merangkum upaya mencapai keharmonisan antara Tuhan, Manusia dan Alam.
Para penulis yang mendaftar akan dipilih oleh Dewan Kurator dengan kriteria penilaian yang meliputi: kesesuaian karya dengan tema, kemampuan berbicara merespon tema festival, kemampuan diri, prestasi dan pengalaman penulis.
Seleksi ini bukanlah ajang kompetisi maupun penghargaan sastra, sebab tujuan utama proses seleksi ini adalah menyusun program festival bertaraf internasional yang membuka wawasan dunia akan keanekaragaman khazanah sastra Indonesia.
Peserta yang terpilih akan diundang mengikuti festival ini dan berkesempatan bertemu dan bertukar pikiran dengan para penulis mancanegara dalam rangkaian kegiatan festival yang berlangsung selama 6 hari. Kegiatan festival meliputi: disksusi panel, pembacaan karya, bincang-bincang penulis, dan lokakarya.
Bila Anda adalah penulis Indonesia, atau mengenal penulis yang Anda anggap layak, layangkan pendaftaran sesuai syarat dan ketentuan di bawah ini:
• Penulis warga negara Indonesia
• Menulis karya sastra, baik berupa puisi, prosa, maupun karya nonfiksi yang sudah diterbitkan dalam bentuk buku oleh sebuah penerbit dan dijual di pasaran umum.
Kirimkan:
• Biodata dalam bahasa Indonesia dan Inggris.
• Buku karya.
• Pernyataan singkat (200-800 kata) berisi tanggapan tentang tema festival.
• Tuliskan juga topik yang menarik untuk ditanggapi penulis berkaitan dengan tema festival.
Kirim ke sekretariat panitia UWRF paling lambat tanggal 21 April 2008 (cap pos) di:
Ubud Writers & Readers Festival – Yayasan Saraswati, PO Box 181, Ubud Bali 80571.
Bagi penulis dari luar Bali yang terpilih, Panitia akan menangung biaya transportasi (penerbangan) dan akomodasi selama berlangsungnya acara.
Untuk informasi lebih lanjut, Anda bisa hubungi Kadek Purnami:
Telp: 0361-7808932, Fax: 0361-973282
Email: info@ubudwritersfestival.com, kadek.purnami@ubudwritersfestival.com.
Keputusan panitia tidak dapat diganggu gugat. Semua berkas pengajuan beserta buku yang telah dikirimkan, akan menjadi hak panitia. (effendy wongso, sumber: ubudwritersfestival.com)

CafeNovel.com | Dewi Lestari
Dalam setiap wawancara dan diskusi buku yang saya jalani, salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan adalah, kenapa tiba-tiba menulis? Demikian ungkap Dewi Lestari yang kerap dipanggil Dee kepada cafenovel.com dalam sebuah milis, Sabtu (26/01). Penulis novel best seller Supernova ini menambahkan, menulis sesungguhnya merupakan karier panjang yang berjalan paralel dengan dunia musik yang juga ditekuninya. Proses tersebut (menulis, red.) merupakan intensitas dari penggalian ide terus-menerus.
"Tidak ada 'konsep tiba-tiba' yang seolah diturunkan dari langit," ujarnya. "Semuanya dilalui dari serangkaian kerja keras, belajar dan belajar."
Lalu ketika ditanya soal kiat untuk menjadi penulis handal, pentolan Rida Sita Dewi ini mengungkap bahwa, jangan pernah berputus asa dalam berkarya. Banyak hambatan yang mesti dilalui dengan kesabaran.
"Cerpen yang kepanjangan sehingga ditolak redaksi, novel yang kependekan sehingga tak dapat diikutkan dalam lomba adalah serangkaian kendala yang pernah saya jalani," demikian ungkapnya lagi.
Jadi proses kreatif merupakan landasan utama untuk menjadi penulis, dan biarkan hal tersebut berjalan secara natural, tambahnya ketika cafenovel.com memancing ihwal sukses yang telah didulangnya sebagai salah satu penulis perempuan papan atas Indonesia. (effendy wongso, sumber: dee-idea.blogspot.com)

CafeNovel.com | Donatus A. Nugroho
Menulislah dengan jujur, sesuai dengan kemampuan dan modal yang dimiliki, jangan terobsesi menjadi penulis hebat. Demikian kata Donatus A. Nugroho seorang penulis pada para kuli tinta, Jumat (11/01), di sela-sela Workshop Penulisan 'Writing and Information Freedom', di Unair Surabaya.
Donatus yang sudah berkecimpung dalam dunia penulisan selama 26 tahun mengatakan untuk mencoba menulis kejadian yang dialami sehari-hari.
"Dengan menuliskan kejadian yang dialami sehari-hari akan lebih mudah bagi penulis. Jujur saya selama ini lebih banyak menuliskan pengalaman pribadi, karena memang lebih mudah," ungkapnya.
Menjadi penulis produktif, kata Donatus, membuat penulis bisa menggantungkan hidup dari tulisannya. Ini yang tidak banyak disadari oleh penulis pemula.
Sebagai seorang penulis harus fokus dalam menyelesaikan tulisannya. Bila ada ide baru yang muncul selama proses kreatif, ide tersebut disimpan jangan dicampur adukkan dengan tulisan yang digarap.
"Selesaikan satu buku dulu baru kerjakan buku lainnya, jangan setengah jalan sudah ditinggal karena ada ide baru. Tidak semua ide harus ditindaklanjuti," kata Donatus.
Ia meminta pada sesama penulis untuk tidak frustasi ketika bukunya belum diterbitkan, karena akan membebani penulis sendiri. "Kalau menurut saya, selama kita menunggu waktu buku kita diterbitkan kita bisa menulis karya yang lain. Nulis, kirimkan ke penerbit, lupakan dan nulis lagi," ujar Donatus.
Sementara itu ketika disinggung tentang adanya blog, Donatus mengatakan itu sesuatu yang bagus, banyak ide-ide baru dan segar yang diekspresikan dan muncul di blog. (effendy wongso, sumber: suarasurabaya.net)