
![]()
Aku ingin membeli barang seni
yang kalian tutupi selama ini.
Andai semua orang tahu
apa sebenarnya benda ini,
maka benda ini
tak akan menarik minat siapapun.
Karena benda ini
akan membuat pemiliknya
harus berani bersikap apa adanya.
Karena benda ini
akan membuat pemiliknya
harus melepas topeng di wajahnya.
Karena benda ini
akan menguji daya tahan
pemiliknya
menghadapi cobaan hidup....
Tapi aku membutuhkan benda ini,
karena benda ini teramat sangat langka,
seperti iklan balai lelang ini
: Langka tapi tak menarik minat siapapun,
andai mereka tahu benda apa ini sebenarnya.
Aku tawar dengan harga tertinggi
: Hargaku senilai kata hati
dari lubuk hati nurani yang terdalam,
hargaku seluas samudera kebenaran,
serta hargaku senilai
sejuta ketulusan dan keikhlasan hati....
Karena kejujuran
akan membebaskan kalbu dan jiwaku.
Kejujuran adalah energi kekuatanku
: Truth is power!
Namaku
: Hati Nurani
Alamatku
: Lubuk hati terdalam
Domisili kotaku
: Pada diri dan jiwa manusia.
Nama saya, Deni Danasenjaya. Namun teman-teman lebih sering memanggil saya dengan Kang Deni, karena saya memang berdarah Sunda. Saya lahir 5 Desember 1969. Saat ini saya telah dianugerahi seorang putra bernama Muhammad Iqbal dan seorang putri bernama Najla Azizah dari pernikahan saya dengan istri tercinta, Aisyah Simatupang. Jujur, meski saya tidak muda lagi dan kini berusia 39, tetapi kegelisahan batin saya tetap memaksa saya untuk terus menulis menyuarakan nurani. Kegelisahan hati saya lebih pada aktualisasi diri terhadap proses interaksi sosial di negeri tercinta ini, demi melihat begitu banyak kejanggalan, kekurangan, dan entah apa lagi yang membuat hati saya tergerak untuk meletupkan gagasan yang biasanya dimiliki anak-anak muda yang menginginkan pembaharuan dan kesejahteraan negerinya. Dan Semuanya itu tetap mengalir dalam darah saya. Saat masih menetap di Surabaya, pada saat reformasi 1998, saya menjadi aktivis jalanan dari kelompok profesional dan pekerja muda. Kini semangat perubahan saya tetap menggelora, justru ketika menelan kekecewaan begitu mendalam terhadap beberapa teman aktivis yang saya kenal baik secara pribadi saat itu telah melenceng dari idealisme semula. Setelah memperoleh kesempatan masuk dalam lingkaran kekuasaan, mereka lupa diri dan malah berperilaku mirip dengan rezim yang mereka cemooh serta kritik saat pergerakan reformasi 1998 bergulir. Saya tak berminat masuk ke dalam sistem kekuasaan, menjadi politisi seperti teman-teman saya karena takut lupa diri seperti ikrar kami dahulu. Menjadi profesional di bidang saya adalah pilihan terbaik saat ini. Dan menulis, entah puisi atau novel bertemakan kritik sosial—yang sedang dalam proses penulisan saat ini, menjadi media penyampaian sikap oposisi dan kritik saya untuk perubahan yang lebih baik di negeri ini.
MEDIA PARTNERS











