

jangan berharap hujan dari nyanyian
karena hujan dipantangkan datang ketika malam menjelang
apalagi kita sendiri....
tengoklah di jendela, cuaca seperti jelaga
kau akan tahu seberapa siksa bakal berlaksa
ketika di kaca tertera tanda basah
lalu orang-orang berlalu lalang dengan perahu
sambil berteriak: 'jangan biarkan anjing berlalu'
kita bukan anjing itu, kita hanya pesakitan
yang tak bisa lepas dari nafas hujan
kita selalu berharap ada yang berderap di atap
lalu kita menyanyi, mengusir sunyi ke dalam diri
sambil terus memelototi partitur yang hablur di udara
dan kita hisap tanpa suara....
tetapi kini jangan berharap hujan atau memanggilnya
dengan nyanyian
biarkan ia lewat tanpa permisi, agar kita tak tahu
dan tak merasa kehilangan
biarkan ia tetap sebagai awan
Mashuri, lahir di Lamongan, 27 April 1976. Alumnus Sastra Indonesia Universitas Airlangga Surabaya. Aktif di Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP) Surabaya. Puisi, cerpen dan eseinya tersiar di berbagai jurnal, media massa dan antologi bersama. Buku puisinya Jawadwipa 3003 (2003), Pengantin Lumpur (2005) dan Ngaceng (2007). Novelnya Hubbu (Cinta) memenangkan Sayembara Novel DKJ 2006 dan diterbitkan Gramedia Pustaka Utama (2007). Didapuk sebagai ketua komite sastra DK-Jatim (Dewan Kesenian Jawa Timur) periode 2008-2013.
MEDIA PARTNERS











