

Seringkah kau bersedih waktu gelap?
Namun, langit mengerti kalbu hatimu
Ia juga menangis ketika kau termenung
Maka seberkas bintang dilahirkannya
Makin lama makin tak terhitung
Lalu kau tersenyum memandang mereka bersinar
Seakan-akan mereka sedang tertawa menghiburmu
Irisan duka dalam hati sedikit sirna
Namun, rasa syukur sirna perlahan
Kau menginginkan kecantikannya
Bintang yang terlihat bahagia
Polesan luar begitu sempurna
Tidak seperti kau yang selalu rapuh
Apakah tidak ada dalam benakmu?
Langit jagat saja bisa tergores luka
Apalagi, hanya setitik bintang?
Tampilan luar bisa menipu
Tersenyum ke sana kemari
Tapi, terisak dalam hati
Ada racun di dalam yang tak kunjung terusir
Hanya dirimu, langit dan bintang yang tahu
Pribadi yang pernah menghias hatimu belum tentu peka
Mungkin ia yang menjadi racun itu
Perasaanmu tak pernah ia selami
Karena parasmu yang tegar
Nama saya, Mariska Uung. Saya lahir tanggal 25 Mei 1986 di Jakarta. Saya hanyalah seorang mahasiswi biasa jurusan manajemen pemasaran di IBII, Jakarta. Sejak duduk di bangku
sekolah dasar, saya sudah suka mengarang. Bermula dari keterpakasaan karena disuruh oleh guru, tetapi entah
mengapa lama kelamaan saya bisa menikmati. Walaupun dengan EYD yang sangat berantakan. Saya berlatih sudah cukup lama untuk menulis, namun tidak pernah mempublikasikan kepada orang-orang. Lama-lama saya berani menunjukkan hobi saya yang akhirnya menjadi cita-cita. Tanpa diduga, banyak yang memuji dan menyukai tulisan saya. Termasuk guru dan dosen yang menyukai cara saya menulis dan menjawab soal ujian kuis. Hal ini sangat memacu semangat saya. Saya semakin giat untuk menulis dan pernah mengirimkan beberapa karya meskipun belum ada yang mempublikasikannya kecuali www.cafenovel.com. Seharusnya saya mengambil jurusan yang berhubungan dengan sastra ketika kuliah, namun waktu itu saya belum dapat memfokuskan masa depan saya. Terlebih ketika orangtua saya menganggap bahwa menulis itu tidak dapat menunjang dan menopang hidup. Ternyata saya salah besar, dan seharusnya saya bisa mempertahankan apa yang telah menjadi mimpi saya. Mungkin nasi sudah menjadi bubur. Saya tidak mungkin meninggalkan kuliah ekonomi saya begitu saja. Apalagi saat ini sudah menginjak semester akhir dan sedang skripsi. Tetapi saya masih tetap memiliki harapan untuk dapat berkarya sesuai cita-cita dan pilihan hidup saya.
MEDIA PARTNERS











