
![]()
Jangan tanya alasanku
karena aku tak punya
Pada siapa kesetiaan kusematkan?
Pada dia?
Pada kau?
Pada cinta?
Mungkin ya, karena kata orang
kesetiaan bergandengan dengan cinta....
Kupu-kupu itu terbang tinggi dalam perutku
Kupu-kupu kesiangan yang terlambat datang tanpa izin
Kepak sayapnya lembut membius
Antara sadar dan tiada....
Kepak ke bawah
pengkhianat nakal
Kepak ke atas
jujur pada diri
terus begitu....
"Usir saja...!"
"Jangan... sayapnya indah sekali."
"Tetapi tipis dan tajam...
lihat ada luka...
sepertinya itu dosa...."
"... aku baru tahu merah dosa itu manis."
Jangan tanya mana kekuatanku
karena aku tak punya
Aku tak tahu hingga kapan
kupu-kupu kesiangan itu akan tinggal
Mungkin sebentar saja
Mungkin sayapnya akan berubah warna
Mungkin kepaknya bertambah dahsyat
mana aku tahu....
Yang aku mau
Jika memang tetes merah itu luka
Biar aku saja yang punya
Jangan dia
Jangan juga kau....
Monita Gunawan, lahir tanggal 7 Oktober di Jakarta. Perempuan rupawan ini merupakan salah satu penulis muda berbakat dengan seabrek tulisan yang berbobot. Sayang, ia sangat jarang mempublikasikan karyanya lantaran didera kesibukannya yang luar biasa. Penulis perempuan berkulit putih bersih ini sangat menggemari traveling, fotografi, psikologi, dan program yoga di waktu-waktu luangnya. Sebagai salah satu penyair tipikal majas, karya Monita Gunawan mengingatkan kita kepada syair-syair dan puisi-puisi fenomenal karya Kahlil Gibran. Indah dan penuh nuansa imajinatif.
MEDIA PARTNERS













